KURATORIAL ETNOGRAFIKA
“ETNOGRAFIKA”
(Khasanah Kultural Dibalik Relasi Keragaman)
Oleh. Dr. Muh Faisal MRA
Etnografika adalah istilah yang memparalelkan hubungan antara Etnologi dan Grafika. Secara umum etnologi digunakan untuk memahami unsur-unsur kebudayaan suku bangsa. Bahwa dalam kehidupan masyarakat terdapat tatanan nilai yang beragam, disertai dengan proses evolusi dan penyebaran kebudayaan yang bergerak secara dinamis. Sedangkan Grafika merupakan pola penyajian pesan secara visual atau presentasi visual dengan menggunakan keanekaragaman media termasuk didalamnya melalui multiplisitas layar. Oleh karena itu, Etnografika merupakan suatu term yang merepresentasi keragaman khasanah kultural melalui media seni yang ditunjukkan oleh penyelenggara pameran seni rupa kali ini.
Penyajian gagasan-gagasan simbolik yang umumnya menampilkan khasanah kultural tidak lepas dari proses pembimbingan mahasiswa melalui program studi khusus yang menekankan aspek penciptaan dan sensifitas estetik mahasiswa untuk mengenal dan memahami nilai-nilai kultural, nilai kemanusiaan, dan nilai spiritualitas disekitarnya, lalu dikonkritkan melalui struktur relasi bentuk dan tanda. Artinya bahwa dalam proses penciptaan, ada proses pemahaman nilai yang bekerja untuk menghasilkan makna (meaning) dalam karya seni rupa. Sehingga tidak saja menekankan eksotisme bentuk visual, tapi terlebih pada kualitas nilai yang terdapat pada pesan komunikasi yang dieksplorasi secara historik,holistic, dan komparatif.
Saya selaku kurator menguraikan beberapa analisis karya seni rupa yang ditampilkan oleh penyelenggara pameran “Etnografika” sebagai berikut:
Pertama: Seni Ilustrasi karya Fitriyani Ibrahim dengan menggunakan media kertas canson dengan bahan acrilyc-drawing pen. Secara umum Fitriyani mengilustrasikan khasanah kebudayaan Kepulauan Tidore Maluku Utara. Pada karya tersebut menunjukkan bahwa ada banyak identitas kultural yang membuat kepulauan Tidore pernah menjadi rebutan oleh bangsa-bangsa Eropa. Seperti melimpahnya kualitas hasil rempah yang ditunjukkan melalui karya petani cengkeh dan karya buah pala dan cengkeh. Begitupula kesultanan Tidore yang mencapai masa kejayaan pada abad 16-18 yang ditunjukkan melalui karya “Dermaga Kesultanan Tidore” yang diapit oleh gunung dan laut yang eksotis. Begitupula dengan panorama alam dan benteng Tidore yang ditampilkan melalui pameran ini. Bahwa pada karya-karya tersebut kita dapat merasakan bagaimana khasanah Tidore dapat diapresiasi sebagai kekayaan etnologi.
Kedua: Seni Lukis karya Hunaifah dengan menggunakan media tripleks. Konsep karya Hunaifah umumnya menampilkan aksara Mbojo Nusa Tenggara Barat yang direlasikan melalui praktik-praktik paradaban budaya. Bahwa antara teks Aksara Mbojo dan visualiasi kultural adalah dua ruang komunikasi yang saling mengikat untuk menghasilkan kemajuan adab yang dipertahankan secara terus menerus. Seperti tradisi kekerabatan, pelestrian tari dan musik tradisional, serta adab, kesantunan, dan religi. Perihal tersebut dapat dilihat dari karya-karyanya yang bertajuk Kalembo Ade, Aina Kamaru Mada ro Kamidi Ade, Ngaha Aina Ngoho, Lingga pu Sadumpu Nepi pu Rui Bada, dan seterusnya.
Ketiga: Seni Lukis karya Sri Yunita Maya yang keseluruhannya menampilkan visualisasi kebudayaan Buton di Sulawesi Tenggara, khususnya daerah Kecamatan Wabula. Bahwa Wabula adalah ujung tombak destinasi budaya yang ada di Kabupaten Buton, sekaligus merepresentasi sistem nilai yang dipertahankan secara turun temurun. Terutama pada nilai-nilai ritual dan tradisi adat dalam pelestarian sistem ekologi-lingkungan. Melalui seni Lukis karya Sri Yunita Maya yang berukuran 122x122 cm, kita dapat melihat bahwa tradisi adat seperti Mangaru, Mangaru Tunggal, Manca dan seterusnya memiliki kesamaan tradisi yang ada di Adat Bugis-Makassar. Bahwa perihal tersebut memiliki relasi historik yang tak dapat dipisahkan. Terutama pada masa kejayaan makassar di abad 17. Pada karya ini kita dapat menemukan pertautan-pertemuan budaya melalui hubungan kekerabatan, politik, dan ekonomi/jalur rempah antara tenggara dan selatan sebagai identitas keberagaman yang saling berhubungan secara etnologis.
Ke-empat: Seni Ilustrasi Mila Karmila yang menekankan pada kaligrafi Arab dengan media kanvas ukuran 80x60 cm. Pada bagian ini Mila Karmila lebih menonjolkan gagasan dekoratif. Yaitu susunan-susunan geometris yang ditata secara berirama untuk menghasilkan keselarasan bentuk dan warna. Sedangkan kalimat-kalimat Tauhid yang diciptakan dominan pada kalimat Asmaul Husna. Jika dihubungkan dengan term etnologi, maka karya ini lebih pada penghayatan spiritualitas sebagai ruang yang senantiasa tak dapat dilepaskan pada sejarah penyebaran Islam melalui pendekatan kultural. Oleh karena itu, semoga kedepan Mila Karmila dapat mengeksplorasi gagasan kaligrafinya melalui pendekatan etnologi yang lebih naratif-simbolik.
Kelima: Seni Lukis karya Nurainun yang juga menekankan pada kaligrafi Arab. Namun Nurainun memilih media kanvas dengan bahan acrilyc dan cat minyak. Sedangkan secara tekstual mengambil dari beberapa potongan-potongan ayat yang dianggap signifikan sekaligus merepresentasi nilai-nilai etnologi pada ruang spritualitas. Karakteristik karya cenderung ekspresif, sehingga saya berharap gagasan-gagasan Nurainun kedepan terus di eksplorasi untuk menemukan corak otentik yang dapat mewakili periode estetiknya secara gradual.
Ke-enam: Seni Ilustrasi Karya Adibah. Pada seni kaligrafi Arab yang ditampilkan menekankan pada kalimat Tauhid yang mengagungkan kebesaranNya serta makna-makna Tauhid untuk menumbuhkan semangat-optimisme dalam menanjaki kehidupan. Sedangkan secara tekhnis Adibah mencoba menampilkan corak dekoratif. Namun pada posisi ini, saya berharap Adibah mampu mengekspresikan karyanya secara kontinyu dan berkelanjutan untuk menghasilkan konsep penciptaan yang paling mendasar. Semoga melalui pameran ini Adibah mampu menemukan gagasan inovatif yang lebih produktif.
Pada simplifikasi di atas, maka saya menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan oleh ke enam mahasiswi di atas adalah upaya mereka dalam melakukan komunikasi lintas budaya. Dimana mereka berasal dari daerah, suku, dan etnik yang berbeda, namun dipersatukan dalam visi kebudayaan melalui praktik seni rupa. Semoga gagasan-gagasan kulturalnya dapat memperkaya konsep etnologinya dalam membaca khasanah kebudayaan melalui karya-karya yang bernilai dan progresif. Untuk itu, kepada Fitriyani Ibrahim, Hunaifah, Sri Yunita Maya, Mila Karmila, Nurainun, dan Adibah saya ucapkan selamat berpameran dan kepada apresian/nitizen selamat berapresiasi.
Wassalam
Makassar, 06 September 2021
Kurator,
DR. MUH FAISAL MRA
Komentar
Posting Komentar