FITRIYANI IBRAHIM (Seni Ilustrasi)

Fitriyani Ibrahim


        Fitriyani Ibrahim lahir di Tidore, 28 Januari 1998. Merupakan anak kedua dari 4 bersaudara dari pasangan ayahanda Ibrahim Hasan dan ibunda Hadija Saoly.. Pertama kali masuk Pendidikan Formal pada tahun 2003 di TK Sarabati Topo Kota Tidore Kepulauan, di tahun 2004 melanjutkan Pendidikan di SDN 1 Topo. Pada tahun 2010 melanjutkan Pendidikan di SMPN 6 Tidore Kepulauan dan tamat pada tahun 2013. Kemudian melanjutkan Pendidikan ke SMAN 3 Tidore Kepulauan pada tahun 2016. Dan pada tahun yang sama tercatat sebagai Mahasiswi Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar.

Karya Studi Khusus yang diangkat adalah Seni Ilustrasi, menggunakan media kertas Canson dengan bahan cat acrilyc dan drawing Pen. Jumlah karya yang di hasilkan sebanyak 7 karya, dengan ukuran A2 (42x59 cm). Tema yang diangkat adalah “Kebudayaan Masyarakat Tidore”. Adapun yang mendasari di angkatnya konsep ini yaitu Kebudayaan adalah identitas kita sebagai Negara majemuk yang memiliki ratusan budaya berbeda. Kebudayaan ini seharusnya hidup di tengah-tengah masyarakat. Saya ingin memperkenalkan Budaya lokal Tidore kepada masyarakat umum bahwa kebudayaan Tidore itu sangat beraneka ragam.

1. Pulau Tidore dan Maitara


        Pulau Tidore dan Maitara adalah dua pulau indah di Ternate yang gambarnya tertera di dalam uang kertas seribu rupiah. Kota Tidore Kepulauan adalah salah satu kota di provinsi Maluku Utara, Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 1.550,37 km², yang menjadikannya kota terluas ketiga di Indonesia setelah Kota Palangka Raya dan Kota Dumai. Pulau Maitara adalah pulau kecil di antara Tidore dan Ternate. Sebagian lingkaran pulau Maitara didominasi pantai pasir putih dan terhampar di depannya alam bawah laut dengan keanekaragaman ikan serta karang yang masih terpelihara dengan baik.

2. Buah Pala & Cengkeh


        Buah Pala dan Cengkeh yaitu rempah Nusantara yang menjadi Primadona di Maluku Utara. Rempah-rempah inilah yang telah melahirkan sejarah terbukanya gerbang perdagangan Indonesia dengan dunia. Pala dan cengkeh menjadi komoditas utama yang dijual dengan harga tinggi pada masanya.

3. Petani Cengkeh



        Cengkeh merupakan salah satu tanaman perkebunan asli Indonesia yang memiliki potensi besar. Saat ini indonesia menjadi penghasil dan pengonsumsi cengkeh terbesar di dunia. Petani Cengkeh di Tidore sangat identik dengan hasil panennya yang di angkut mengunakan keranjang Tradisional atau biasa disebut dengan Saloi.

4. Kadaton Kesultanan Tidore


        Kadaton Kesultanan Tidore merupakan salah satu Kesultanan besar dari empat Kesultanan di Maluku Utara atau biasa di sebut Bumi Moloku Kie Raha. Keraton Tidore berada di pulau terpisah yaitu di pulau Tidore. Untuk masuk kedalam Kadaton Kesultanan Tidore ada aturan yang harus di patuhi. Di bagian bawah keraton terdapat sejarah Kesultanan dan juga sejarah bergabungnya Kesultanan dalam wilayah kesatuan NKRI.

5. Dermaga Kesultanan Tidore


        Dermaga Kesultanan Tidore terletak di pusat kota Soa-Sio, posisinya tepat berada di Tanjung Soa-Sio. Dermaga ini di bangun oleh Sultan Zainal Abidin Syah, Sultan Tidore ke-37. Menurut sejarah, dermaga ini di bangun sebagai tempat berlabuh kapal perang serta tempat menjemput para tamu Sultan sekaligus sebagai benteng pertahanan yang merupakan salah satu strategi dalam perluasan wilayah Kesultanan Tidore dan untuk saat sekarang dermaga ini di fungsikan sebagai tempat menjemput tamu secara adat.

6. Benteng Tore Tidore


        Benteng Torre merupakan salah satu benteng yang dibangun oleh Bangsa Portugis pada tahun 1578, sekitaran pada abad ke 16 M di Kota Tidore Kepulauan. Benteng Torre sebagai bentuk pertahanan melawan Bangsa Belanda yang datang ke Tidore Kepulauan untuk mencari rempah-rempah. Benteng Torre berada di atas bukit sekitar kawasan Kedaton Kesultanan dan makan Kapitalau serta Makam Sultan Zainal Abidin Syah.

7. Parade Juanga (Keliling Pulau Tidore)


        Parade Juanga (Keliling Pulau Tidore) Parade ini di gelar untuk memperingati keperkasaan armada Juanga Kesultanan Tidore yang kala itu di pimpin Sultan Nuku dalam melawan penjajah asing. Melalui parade ini dapat menghidupkan semangat perjuangan Kesultanan Tidore dalam konteks kekinian, tentunya juga menjadi daya tarik pariwisata.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILA KARMILA (Seni Ilustrasi Dekoratif)

PROFIL PERUPA ETNOGRAFIKA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SENI RUPA UNISMUH MAKASSAR

KURATORIAL ETNOGRAFIKA